Nonton Film Layar Lebar Bohemian Rhapsody Bikin Ketagihan

bohemian rhapsody
Past

SAYA INGIN MENONTON 10 KALI LAGI – Rasanya saya bisa menonton 10 kali lagi dan saya tak akan bosan. Dan saya rasa, saya akan tetap menangis juga menyaksikan kembali beberapa adegannya.

‘Bohemian Rhapsody’ adalah film yang indah tapi perih, megah tapi mengenaskan. Dasyat tapi tragis. Semua dikemas begitu indah, menguras emosi dan mengharu biru.

‘Bohemian Rhapsody’ dibuka dari momen ‘iconic’ dalam sejarah musik – tampil di ‘Live Aid’ pada 13 Juli 1985 – 33 tahun silam . Lalu ‘flash back’ perjalanan awal membentuk band, populer, dan memuncak lagi di sana. Antara 85 ribu hingga 100 ribu penonton menyanyi dan bergemuruh bersama Queen, di stadion Wembley – London, disaksikan 1,5 miliar penduduk di seantero bumi lewat radio dan teve yang dipancarkan melalui 10 satelit.

Bagi mereka yang belum melihat konser Queen secara langsung, maka penonton bisa menyaksikan aksi fantastisnya dalam film ini. Pesona Freddie Mercury memukau puluhan ribu penonton di dalam stadion menyanyi sesuai irama yang diinginkannya, “eooo..aeo…aeoooo…” berkali kali, dengan berbagai lekukan irama, dan mereka menurut. Fantastis!

Film ini memang berfokus pada sosok Freddie Mercury – anak imigran dari Zanzibar – Tanzania, yang sering ditindas – dibully – di negeri barunya di Inggris, tapi akhirnya mampu menunjukkan jati diri pada dunia. Juga kehidupannya yang kelam, tak terkendali, dan awur awuran dan kehilangan orang yang yang membesarkan dan menyayanginya selama ini .

Diungkapkan juga di film ini proses kreatif lahirnya lagu lagu hit grup Queen yang melegenda di seluruh planit bumi, sampai sekarang. Terutama, tentu saja, proses penciptaan ‘Bohemian Rhapsody’ yang semula ditolak habis habisan oleh produsernya, Ray Foster.

“Enam menit ? Siapa mau memutar lagu (sepanjang) enam menit? Radio radio akan menolak memutarnya, “ teriak Ray Foster (diperankan oleh Mike Myers), sang produser. “Dan liriknya? Apa itu Zaramus Zaramus… Galilio Galileo..?! ” keluhnya.

Ray meminta lagu itu dipotong menjadi tiga menit dan judulnya diganti. Freddie dkk menolak keras. Kedua pihak ngotot dan bertengkar hebat. Ray Foster sendiran, ketika sebagian orang kepercayaannya di studio sudah jatuh cinta pada lagu ‘Bohemian Rhapsody’. Tapi dia bersikukuh.

Freddie dkk amat kesal, dan meninggalkan studio dengan marah. Bahkan melempar batu dan mecahkan kaca jendela studio, dimana Ray Foster duduk. “Nanti diganti dari royalti lagu itu, “ teriak Fredie di bawah.

Dengan sengaja Freddie melanggar kesepakan kontrak, menyerahkan plat rekaman itu pada penyiar radio dan disiarkan. Lagu itu pun meledak.

Freddie menulis 10 dari 17 lagu di album ‘Queen Greatest Hits’: Selain ‘Bohemian Rhapsody’, juga ‘Killer Queen’, ‘Somebody to Love’, ‘We Are the Champions’, ‘Bicycle Race’, ‘Don’t Stop Me Now’, ‘Crazy Little Thing Called Love’, ‘Seven Seas of Rhye’, ‘Good Old-Fashioned Lover Boy’ , dan ‘Play Game’.

Oh, ya. Freddie juga menulis ‘Love of My Live’ yang ditujukan pada Marie Austin, belahan jiwanya.

MARIE AUSTIN adalah wanita yang menerima Freddie apa adanya, sejak Freddie ‘Paki’ belum jadi apa apa, dan justru mundur setelah pria itu menjadi superstar bagi Queen dan bagi pecinta musik rock dunia. Marie Austin memilih mundur ketika Freddie mulai menunjukkan kelainan. “Kukira aku biseksual, “ dia mengaku pada tunangannya itu.

Mary mendapatkan pria lain, dan membatasi hubungannya dengan Freddie hanya sebagai sahabat. Sahabat sejati, hingga akhir hayatnya.

Adalah inisiatif Marie Austin yang mempertemukan kembali Freddie Mercury dengan Brian May dkk di Queen, setelah hubungan mereka retak. Freddie merasa terkucil. Asisten dan pacar homonya, menutup kontak dengan teman teman lama, saat dia dianggap serakah menggarap album solo di Munich, memenuhi ego dan kreatifitasnya, dengan iming iming kontrak USD 4 juta, sebagai vokalis tunggal. Angka yang fantastis pada masanya.

FREDDIE di awal film ini, diperkenalkan sebagai petugas portir di Bandara. Remaja bergigi tongos. Teman temannya di Bandara memanggilnya ‘Pakhi’ sebagai sebutan singkat “Pakistan’ (mengingatkan pada warga Indonesia dipanggil ‘Indon’ di Malaysia.pen).

Nama aslinya Farokh Bulsara. Ayahnya, Bomi Bulsara datang dari Bulsar di Gujarat dan pindah ke Zanzibar untuk bekerja di Pengadilan Tinggi sebagai kasir bagi pemerintah Inggris. Bomi menikahi wanita India tapi kemudian kembali ke Zanzibar. Farokh Freddie Mercury kemudian lahir 5 September 1946.

Keluarga besarnya berakar di India dan Persia. “Tapi sekarang aku di London. Namaku Freddie, “ katanya sembari mematut diri di depan kaca. Dia gila musik dan rajin ngeluyur ke klub malam. Menolak panggilan Farokh. Ayahnya tak suka.

Di klab malam itu dia menyaksikan band ‘Smile’ dengan personil Brian may dan Roger Taylor. Menjadi penggemarya. Ketika band itu kehilangan vokalisnya yang bosan, Farokh menawarkan diri. Awalnya diejek dan ditertawakan, tapi setelah menunjukkan suaranya, dia diterima. Lalu berganti nama menjadi Queen.

Kehadiran Freddie mengubah grup yang main di klub malam menjadi grup rekaman, dikontrak studio besar, dapat publikasi luas, masuk chart di radio dan konser. Bahkan terbang ke Amerika.

Queen dikenal sebagai grup band dengan lagu lagunya yang mencampurkan berbagai genre. Utamanya rock dan klasik dan khususnya rockabilly, rock progresif, heavy metal, gospel dan disko. Dan Fredie adalah sosok pencetus utama di baliknya.

Lagu lagu Queen dilahirkan dengan perdebatan sengit di studio. Freddie selalu ngotot dan yakin dengan konsep musiknya. Dia menumpahkan ide idenya yang sangat rumit, sering kesulitan membaca not. Sebagian besar ide lagu-lagunya ditumpahkan di piano dan dia menggunakan berbagai macam tanda kunci yang berbeda. Dan selalu melahirkan hal baru.

“Saya benci melakukan hal yang sama lagi, lagi, dan lagi. Saya ingin melihat apa yang terjadi sekarang dalam musik , film dan teater dan menggabungkan semua itu,” katanya, dalam satu wawancara.

Dengan alasan yang sama dia minta “istirahat” dari Queen untuk mengarap album solo – yang kemudian menimbulkan kemarahan rekan rekannya. Tapi kemudian Freddie menyesalinya. “Di Munich (Jerman) aku bebas bekerja dan semua orang di studio menuruti perintahku. Tapi aku cepat menjadi bosan. Tak ada yang melawan seperti kamu (kepada drummer Roger Taylor), tidak ada yang ngotot minta tambahan royalti, bagian terbanyak, dan lainnya, “ ujar Fredie kemudian.

Menurut saya itu adegan yang sangat menguras emosi. Freddie mengaku salah, menyesal, dan siap menerima semua hukuman dan persaratan asal bisa kembali gabung dengan Queen. “Kita keluarga. Dalam keluarga pertengakaran adalah hal biasa, “ katanya ketika memohon kepada produser agar bisa bicara dengan kawan kawan Queennya yang masih marah.

Sebelum itu, dia mengusir pacar homonya yang menutup kontaknya dengan teman teman di Queen sehingga dia telambat tahu ada event ‘Live Aid’ yang digagas Bob Geldof. “Aku mau kamu keluar dari hidupku, ” katanya. Saat itu pacar homonya – yang merusak hidupnya – mengancam akan membeberkan foto foto kebersamaan mereka – ke media, Freddie tak perduli. “Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, “ katanya.

Adegan itu ditampilkan dengan wajah Freddie memunggungi si homo itu, dan terus memunggunginya sambil meninggalkan rumah. Di tengah hujan. Perih sekali.

Ketika dipertemukan dengan personil Queen lain, dia langsung mengaku salah dan siap menerima hukuman atas kesalahannya. “Saya siap buka baju untuk mencambuki diri sendiri, seandainya saya harus melakukannya, “ katanya kepada Brian May, John Deacon dan Roger Taylor. Rekan rekannya minta waktu untuk berunding.

Bagaimana pun tanpa Freddie, Queen kehilangan kharisma dan getarannya. Dan keuangan band juga merosot drastis.

Fredie menunggu di luar. Gelisah. Tak sabar. Produser yang memediasi memintanya bersabar. Butuh waktu. “Aku tak punya waktu lama, “ kilahnya.

Saat itu dia baru menjalani tes di lab dan dia positif AIDS. Hidupnya memang tak lama lagi.

DIPRODUKSI Twenty Century Fox, film ‘Bohemian Rhapsody’ membidik penonton usia 13 tahun ke atas. Itu nampaknya yang membuat seluruh adegan film ini “aman” bagi remaja. Banyak hal yang ekstrim dalam kehidupan Freddie Mercury yang tidak ditampilkan – setidaknya menurut buku buku yang sudah beredar. Kehidupan extravagansa sebagai rocker biseksual era 1980-90 ditampilkan dengan halus.

Brian May, legenda yang hidup dan masih manggung, menunjukkan sosok bijak. Sedikit bagian dari perannya membesarkan Queen ketika menciptakan lagu ‘We Will Rock of You’. Selebihnya aksi panggungnya.

Sebuah adegan yang mengesalkan tampak dari acara jumpa pers, dimana para wartawan terus mencecar Freddy Mercury di seputar gigi mancung dan orientasi seksnya, dan tidak membahas musik. Brian May yang duduk di depan nyaris habis akal – tapi terus memperlihatkan kesabarannya.

“Tidak adakah yang tertarik dan bicara musik di sini?”

RAMI MALEK, aktor berdarah Mesir tapi lama tinggal di Amerika, dipercaya memerankan sang ikon rock setelah aktor yang dipercaya sebelumnya, Sacha Baron Cohen, mundur karena bertengkar dengan Brian May – lantaran beda prinsip.

Sacha Baron menginginkan film itu berfokus pada grup Queen – bukan pada Freddie Mercury, vokalisnya. Sedangkian Brian May sebaliknya.

Untuk menjadi Freddie Mercury, Rami Malek perlu usaha keras. Tak hanya menghabiskan berpuluh-puluh jam dengan kostum, ia bahkan membutuhkan pelatih gerak yang melatihnya gestur Mercury secara mendetail. Di panggung, memang dia hidup sebagai Freddie Mercury.

“Ketika mendapat surat panggilan untuk peran ini, rasanya seperti dapat Piala Oscar, “ kenangnya. Dan dia terus menyimpan gigi tambahan untuk peran Freddie di rumahnya.

Dari ‘Bohemian Rhapsody’, Rami Malik menuturkan sosok yang mengesankannya itu. Revolusi yang ditunjukan oleh Freddie Mercury, yang dia perankan, katanya: “Anda dapat menjadi diri Anda yang paling otentik”

Sebenarnya ada banyak sekali kutipan yang indah, unik, menarik dan sangat menginspirasi di film ini. Dan film sepanjang 134 menit atau dua jam 14 menit rasanya begitu cepat.

Itu sebabnya saya ingin menonton lagi. Lagi dan lagi. ***

sumber: status fb dimas supriyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Please disable your adblock for read our content.
Refresh